Oleh : Made Teddy Artiana

 

 

Agak berbeda dengan jenis-jenis Yoga yang ada, Acro (bat) Yoga memang memiliki keunikan sendiri. Memang bagi sebagian besar orang, gerakan Yoga saja, sudah merupakan “akrobat” tersendiri. Betapa tidak, sebut saja Headstand Pose atau Virsasana misalnya. Virsasana adalah pose Yoga yang cukup terkenal, dilakukan dengan menempatkan kepala di bawah, lalu kaki di atas. Kemudian Handstand atau yang dalam bahasa Sansekertanya dikenal dengan Adho Mukha Vriksasana, agak berbeda walau dalam posisi yang sama. Pada headstand, kita bertumpu tidak pada kepala namun pada tangan atau jari-jari tangan. Kemudian Crane Pose atau Bakasana, lalu Scorpion Pose (pose Kalajengking) atau Vrischikasana, serta masih banyak lagi pose Yoga yang tampak memang sebagai akrobat.

Berbeda dengan pose-pose diatas, Acro Yoga tidak hanya menampilkan akrobat, namun juga tidak dapat dilakukan seorang diri. Pelaku Acro Yoga haruslah berpasangan. Biasanya pria-wanita. Justru disinilah letak keunikan Acro Yoga, tidak hanya akrobat yang ditampilkannya, namun justru akrobat itu melibatkan sebuah chemistry. Sebuah kerja sama dan saling percaya. Sebuah “trust”. Ini yang membuat kemudian Acro Yoga menjadi lebih dari sekedar akrobat biasa.

Di salah satu workshop Bali Spirit Festival di hari pertama, bertempat di  ruangan Lawn Pavilion,  Justin, Samantha & Alexandra membimbing peserta untuk melakukan Acro Yoga. Lewat pendekatan yang sangat unik, dasar-dasar Acro Yoga dikenalkan kepada peserta workshop. Diawali dengan membangkitkan trust dan chemistry dari masing-masing peserta terhadap pasangannya.

Seperti pribahasa : tak kenal maka tak sayang, maka mereka bertiga membimbing peserta untuk berkenalan dengan masing-masing pasangannya. Nama, asal negara, pekerjaan dan hal-hal lain yang membuat mereka lebih “cair” satu sama lain. Setelah saling mengenal, chemistry dilanjutkan lewat “saling memijat”. Ini jelas membuat masing-masing peserta yang “tegang” menjadi lebih relaks. Karena bagi sebagian peserta Acro Yoga adalah asing dan cukup menakutkan, maka ketegangan otot harus dicarikan jalan keluarnya.

Setelah itu barulah mereka mencontohkan sebuah gerakan dasar Acro Yoga. Seorang berbaring di matras, kemudian yang lain bertumpu pada telapak kaki pasangannya, lalu mulai mencoba untuk naik.

“Kuncinya adalah trust”, salah seorang dari mereka memberikan tips kepada peserta. “Ketika Anda mempercayai pasangan Anda, kemudian tidak takut lagi, maka otot-otot yang semula terkuncipun, akan mulai bekerja dengan baik. Rasa takut, rasa tidak percayalah yang membuat Acro Yoga tampak mustahil dilakukan”

Para peserta yang membentuk lingkaran besar mengelilingi mereka bertiga tampak tak sabar ingin mencoba gerakan-gerakan yang dicontohkan oleh Justin, Samantha dan Alexandra. Namun mereka memang harus bersabar, sebab bagaimanapun, sebagaian dari mereka adalah baru dalam hal Acro Yoga.

Dengan membertimbangan tinggi dan berat badan, beberapa kelompokpun kemudian dibentuk. Pertimbangan tinggi-berat memang sangat penting. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pasangan yang tidak seimbang nantinya. Misalnya seseorang yang bertubuh kurus kemudian mendapat pasangan yang memiliki berat badan tiga kali lipatnya.

Pesertapun kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompokberanggotakan tiga atau empat orang. Hal ini dilakukan karena memang masih diperlukan seorang atau sepasang “pengaman” yang bertugas menjaga pasangan yang sedang mencoba gerakan Acro Yoga. Mereka berdiri disebelah kanan-kiri pasangan Acro. Jika sesuatu terjadi, mereka bertanggung jawab untuk memberi bantuan, dengan cara menahan beban, membantu menurunkan atau apapun, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Awalnya, setelah mencoba gerakan-gerakan Acro, memang jelas terlihat peserta menampilkan wajah-wajah tegang mereka. Namun setelah 15 menit berlalu, mereka tampak mulai menikmati Acro Yoga. Salah seorang peserta, tampak sudah tidak kuat lagi menahan tubuh pasangannya, sementara pasangannya masih tampak excited dan tidak mau diturunkan. Ini jelas sesuatu yang mengundang gelak tawa bagi peserta lain. Kepiawaian Trio Acro Yoga ini membuat kelas yang berlangsung selama dua jam ini seakan berlangsung selama 30 menit saja! (*)

Share →
About The Author

Made Teddy Artiana

My name is Teddy Made Artiana. My educational background is computer science, information management majors. I had worked for seven years at Bank Central Asia in the information technology division. I have recently won a national short story writing contest, with the theme of "Eternal Love Story". In 2012, Bunga Bakung Publishing published my first novel "The Ballads 13 Housemaid (who worked in our house), " a comedy novel. I also write travel articles for various magazines and collaborate with Indonesia Community Sales, Professional & Entrepreneur Club, Marketing Community. These days I work as a photographer and a writer.

One Response to Acro Yoga : Bukan Sembarang Akrobat

  1. You can certainly see your enthusiasm in the work you write.
    The arena hopes for even more passionate writers such as you who are
    not afraid to mention how they believe. Always go after your heart.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Comment Avatars are powered by Gravatar.

Connect with Facebook